Kamis, 01 Januari 2015

Senandung Cinta dalam Pesantren

Malam, kian terasa sunyi, hanya terdengar suara bising dari pojok-pojok kamar pesanren putri. Di sekeliling asrama putri terlihat berbagai aktifitas, di pojok kanan terlihat segerombol santri yang masih menikmati indahnya langit malam, di pojok lain ada yang konsen menghafal Alquran dan kitab-kitab lainnya.
Malam semakin sunyi, semua santri telah kembali ke dalam mimpi masing-masing. Hingga terdengar suara bel, yang menuntut mereka untuk bangun dan melaksanakan sholat subuh, kemudian mengaji kitab. Sungguh tak disangka, pada saat menggaji kitab, banyak santri yang menggantuk, tapi itulah salah satu kenikmatan yang perlu kita syukuri.
Pagi, datang menyapa enbun pagi dalam daun yang penuh kesejukan. Semua terasa indah, saat sayap-sayap burung terlihat terbang bebas di atas sana. Gerbang pesantren dibuka, semua santri putra dan putri bergegas meninggalkan pesantren dan melangkah bersama menuju sekolah. Saat mengikuti pelajaran, semua murid tampak tawadhu. Namun tak seperti hatiku (Aina najwa Sania) gadis berumur 17 tahun, salah satu santri putri pesantren al-anwar, yang diasuh oleh KH. Ahsan Syafi’i. Semua terasa hampa, saat aku mulai hari-hari di pesantren hingga saat ini aku masih terbayang-bayang akan keluargaku. Ayah, Ibu Najwa rindu kalian semua. Tapi, tak mungkin bila aku kembali ke rumah, sama saja aku menggecewakan kedua orangtuaku. Aku memang harus bangkit dan lupakan kesenagan semu, bersusah dahulu dan nanti akan kupetik serbuah makna yang terindah. Ayah, Ibu, Najwa berjanji akan pulang dengan membawa segudang ilmu yang kian nanti bemanfaat dan bisa kalian bangakan.
“Najwa,” Nisa, temen dekatku yang juga salah satu santri pesantren.
“kenapa kamu selalu melamun? Sudahlah Najwa, tidak hanya kamu yang merasakan rasa ini, semua santri baru juga begitu, begitu juga dengan aku. Tapi ini adalah hidup yang harus kita tempuh dengan ikhlas. Najwa ku yakin kamu pasti bisa, aku siap jadi orang yang selalu mendengar keluh kesahmu.”
“Makasih Nis, aku janji akan betah disini, dan bersama-sama berjuang demi cita-cita kita”.
Kata-kata Nisa benar-benar meyakinkanku dan memperkuat semanggatku. Tak terasa sudah dua minggu aku di pesantren, banyak kisah dan ilmu yang aku dapat. Ternyata menyenangkan hidup sederhana, makan apa adanya, kebersamaan tanpa pamrih, sungguh semua ini tak bisa aku rasakan jika aku di rumah.
Matahari seakan terasa di ujung kepala, saatnya pulang sekolah. Semua murid berjalan teratur, pulang ke rumah masung-masing. Sesampai di pesantren, aku langsung berganti baju dan bersiap-siap untuk melakukan kegiatan menggaji kitab. Namun ada santri yang datang ke kamar dan memanggilku.
“Najwa, kamu tadi dipanggil sama umi, amanat beliau setelah pulang sekolah, kamu disuruh menghadap beliau”
“ada apa ya?, aku takut”
“udahlah Najwa, jangan takut kamu ngak ada masalah sama umi kan, ayuk aku antar”
Aku pun berjalan menuju kamar umi bersama Dinda, salah satu santri kepercayaan umi. Langkah kaki ini terhenti, kamar umi semakin dekat dan kini telah sampai. Jantungku semakin deg-degan. “huft, bismillah”
“Assalanmualaikum, umi.,”
“Waalaikumsallam..”
Pintu kamar terbuka dan mulai Nampak sosok ibu yang sangat cantik, bijaksana, dan lemah lembut (umi Khotijah) isteri dari abah Ahsan, yang dikaruniani tiga orang putra. Diantaranya gus Alan dan gus Arfi, yang satu kurang ku kenal, karena berada di negeri Mesir.
“Ini umi, uhti Najwa yang tadi pagi umi cari”.
“Oh, iya, silahkan duduk nduk”
Akupun duduk di samping umi, dan uhti diminta meninggalkan ku.
“begini nduk, tadi pagi Ibumu telfon umi, kamu disuruh pulang, untuk menggjadiri acara pernikahan saudara kamu. Umi mengijinkan, tapi Cuma dua hari saja.”
Aku hanya bisa menggangguk, dan tersenyum bahagia. Yang kunanti-nanti kini datang juga. Aku salim sama umi sekaligus berpamitan.
Sesampai di kamar ku tata semua barang-barang yang akan ku bawa pulang. Kemudian tak lupa pamitan dengan Nisa dan teman-teman lainnya. Menuju ke dunia luar, serasa indah kembali ku naiki kereta yang mengantarku ke rumah.
Beberapa jam kemudian, akhirnya sampai juga. Suasana rumah yang sudah terpenuhi bungga-bungga pengantin, seakan-akan menyambut kedatanganku. Ku langkahkan kaki denggan cepat, dan terhenti tepat di depan rumah.
“Assalamualaikum”
Lama tak ada suara, mungkin karena terlalu ramai sampai tidak ada yang mendengar salamku. Beberapa menit kemudian, tampak bayangan serorang gadis kecil yang mendekati pintu dan menjawab salamku.
“Waalaikumsalam, kak Najwa”,
Langsung kupeluk gadis kecil itu, dia adalah safira adikku yang pertama. Ku lepas semua kerinduanku, kemudian Safira lari dan memanggil ibu. Ibu pun muncul, ku langsung mencium tangan ibu dan memeluknya, semua yang ada di situ pun meninggalkan pekerjaan mereka dan menemuiku. Rasanya seperti mimpi, tapi ini bukan mimpi ini kenyataan yang jelas-jelas terjadi (dalam batinku)
“Semakin besar saja kamu nak,”
“Betah kan kamu disitu”, Tanya ayah.
“Alhamdulillah, berkat doa dan semangat dari ayah, ibu, dan teman-teman, Najma betah kok”
“syukurlah kalau begitu, ayah sama ibi jadi nggak khawatir lagi”.
Aku pun langsung istirahat, dan membaringgkan tubuh di kamar, dan semua kembali ke pekerjaan mereka. Satu malam di rumah, serasa nggak betah, rasanya ingin cepat-cepat kembali ke pesanteren. Meski tidur sepeti korban bencana yang tidur berjejeran dan sesak-sesakkan, tapi terasa indah dan myaman. Setelah beberapa jam berguling di kasur akhirnya, tertidur juga.
Suara kokok ayam mulai terdenggar, membisingi telingaku yang membuat ku terbangun dari tidurku. Ingin rasanya tidur lagi, tapi tampaknya semua keluarga sudah terbangun dan sudah siap-siap pegi ke masjid untuk berjamaah.
Seusai jamaah, semua mempersiapkan acara pernikahan mas Aryo, kebetulan acaranya pagi-pagi, dan siangnya aku harus kembali ke pesntren. Acara yang belangsung meriah pun telah usai tepat pukul 12.00. Seusai sholat dzuhur, aku bersiap-siap berangkat ke pesantren. Ayah menggantarku sampai di stasiun, tanpa menunggu lama ayah meninggalkan ku dan meninggalkan seribu pesan yang harus aku patuhi selama di pesantren. Kereta menuju ke Pekalongan masih sekitar satu jam lagi, aku duduk di bangku kosong di bawah pohon yang rindang. Tiba-tiba ada laki-laki yang aneh yang mendekatiku, dan duduk di sebelahku. Aku semakin takut dan deg-degan.
“Mba kenapa?, apa ada yang aneh ya, apa memang aku yang aneh?”. Tanya laki-laki itu.
Aku hanya bisa terdiam, aku binggung harus bilang apa.
“Kenapa mba diam, mba merasa terganggu ya, kalau begitu aku pergi saja mba,”
“Jangan pergi, tetap disini saja, aku ngak merasa terganggu kok,”
“baiklah, angap saja kita teman lama, jadi santai saja mba, tak usah gelisah begitu”
“kenapa mas bicara seperti itu, bukankah kita tak penah bertemu, bagaimana bisa kita jadi teman lama”
“aduh, mba ini ngak ngak meresapi apa yang saya bicarakan ya, itu hanya sebuah anggapan, agar mba tidak merasa canggung bila di sebelah saya”.
Aku merasa malu, aku hanya bisa tersenyum sambil menahan rasa malu.
“Mba, mau kemana?”
“Pekalongan”.
Tanpa sadar aku menggulurkan tangganku, dan menyebut namaku. Tapi tak ada balasan darinya.
“kenapa mas tidak mau membalas perkenalanku, bukankan tadi mas bilang kalau kita berpura-pura jadi teman lama, apa salah ya jika kita mengenal lebih dekat, meskipun hanya nama. Siapa tau suatu hari nanti kita akan bertemu, dan kita bisa saling menyapa”.
“Apa arti sebuah nama dan pertemuan, pertemuan pertama akan mengisahkan sebuah rasa penasaran, pertemuan kedua akan mengisahkan sebuah rasa rindu, dan aku tak mau merindu, karena rindu itu sangat menyakitkan.”
“kenapa mas bicara seperti itu, bukankah sekarang dunia itu seakan sempit”
Belum sempat menjawab pertanyaanku, kereta yang menuju ke Pekalongan datang, saat ku menengok ke belakang laki-laki itu sudah hilang dari pandanganku, hanya tertinggal buku memory yang ia tinggal di bangku tadi. Ku ambil dan ku baca, ternyata baru terisi satu lembar yang isinya:
Aku terpesona
Pada seorang gadis, yang duduk di sampingku
Matanya yang indah, alisnya yang tebal,
Aroma wanginya yang menggetarkan hatiku
Terlebih lagi balutan kain suci
Yang telah membalut mahkotanya
Membuatnya semakin anggun
Hati siapa yang tak tergoyahkan akan kecantikan hati dan jiwanya
Sungguh aku telah terpana olehnya
sebuah ungkapan rasa yang seketika terjadi, ku baca tulisan itu sepanjang perjalananku, hingga hati ini terluluhkan, dan merindukan sosok laki-laki misterius tadi.
Kereta berhenti, dan aku langsung berjalan menuju pesantren yang tak jauh dari setasiun. Sesampai di pesantren aku langsung menuju ke kamar, kemudian langsung sowan ke umi agar umi ngak khawatir dan aku ngak di takzir. Seusai sowan di ndalem umi, aku berpapasan dengan Nisa, nampaknya dia begitu terburu-buru.
“mau kemana Nis?, kok buru-buru gitu”.
“tadi ada pengumuman, katanya putranya umi hari ini pulang dari Mesir dan seluruh santri ikut menyambut kedatangannya”
“oh, tak kira ada apa-apa, aku nggak ikut nggak papa kan, soalnya ku capek banget”.
“ya ya, kamu istirhat aja di kamar”.
“ok”.
Aku pun langsung bergegas ke kamar dan Nisa pergi menyambut kedatangan gus Hasbillah putra pertama umi, yang umurnya masih sederajat denganku. Saat aku sendiri di kamar aku teringat akan laki-laki itu, memandang tulisanya seakan ku benar-benar dekat dengannya. Apakah ini yang dinamakan cinta, ataukah rasa rindu yang menyesakkan hati dan menghipnotis fikiranku, ah entahlah. Dari pada aku bingung dengan hatiku sendiri, aku memutuskan menyusul Nisa. Ternyata, yang mereka nanti belum datang juga, dan aku kembali ke kamar.
Beberapa jam kemudian, semua santri kembali begitu juga dengan Nisa.
“Gimana Nis, dah ketemu sama gus Hisbi?”
“udah donk, tambah cakep aja beliau”.
“eh, eh, inget Nis, kamu kan dah punya andika”.
“ya, aku tau Najwa, ngak mungkin juga kan seorang gus jatuh cinta sama aku, dan cintaku juga hanya untuk mas Dika seorang,”.
“cie cie, yang lagi kasmaran”.
“la, kamu sendiri gimana Najwa”.
“belum saatnya ku certain sama kamu, he he, udahlah aku mau ke warung dulu, mau beli peralatan mandi”.
“aku temenin ya”.
“gitu juga boleh”.
Kami berjalan menuju warung, di tengah perjalanan aku bertemu sosok laki-laki di stasiun itu, aku berhenti sejenak dan melamun. Apakah ini mimpi? Tapi rasa ini ada.
“Najwa, ayo cepet, wah terpesona juga ya sama gus Hisbi”
“apa dia gus Hisbi, putranya umi?”
“ya, Najwa salah kamu sih tadi ngak ikut menyambutnya”
Rasa ini semakin hilang, ketika ku tau bahwa dia adalah seorang gus, hatiku semakin gundah dan tak tau harus berbuat apa.
Setelah belanja di warung Nisa bertemu Andika dan mereka berbincang-bincang. Akhirnya ku harus rela pulang sendiri, dan di tenggah perjalanan aku berpapasan dengan gus Hisbi.
“Assalamualaikum ya uhti, tak kusangka ternyata Allah mempertemukan kita kembali”
“Waalaikumsalam, ya alhmdulillah, seperti yang ku katakan dunia sekarang itu seakan sempit”.
“kamu kenapa, wajahmu pucat seakan-akan kamu ingin menghindar dariku, apakah pertemuan ini memngganggu mu”
“sungguh, bukan begitu, tapi aku harus kembali ke pesanteren, soalnya sebentar lagi ada ngaji kitab tafsir”.
“oh, ya maaf saya lupa, sampai ketemu nanti”
Kita pun berpisah, dengan rasa gundah bercampur rindu aku meninggalkanya. Lalu berangkat ngaji dan kagetnya lagi yang mengajar adalah gus Hisbi. Semakin tegang rasanya, badanku serasa masuk dalam almari es yang begitu dingin.
Telah lama ku pendam rasa rindu ini
Hingga kini telah terobati
Akan sang halwa yang hadir dalam hidup ini
Tuhan, entah apa maksud Mu
Kau pertemukan kami lagi
Dalam ruang rindu yang berisikan cinta
Apakah ini takdir Mu, tuk jadikan kami yang halal untuk Mu
Ataukah hanya sekedar pertemuan
Yang berakhir semu
Semua yang terjadi seperti mimpi, dua hati yang baru bertemu kini kian menjadi satu. Perasaan yang sama namun, kian sulit tuk di padu karena sesuatu. Dan hanya takdir sang izzati Robillah yang dapat menjawab kegelisahan ini. Semua yang terjadi ku ceritakan pada Nisa, dan dia memberikan solusi yang terbaik. Dan aku harus memilih mana yang baik dan yang tak baik.
Pagi menyapa ku dengan indah, hari minggu yang menyenagkan meski hati dilanda kegelasahan yang tak menentu. Aku duduk di samping taman sambil menikmati udara pagi dan sedikit ndarus alqur’an. Tanpa kusadari, ternyata gus Hisbi menghampiriku. Tak tau apa yang ia bicarakan, sebuah ungkapan hati yang begitu tulus dan ikhlas.
“Najwa, setelah lama aku pendam rasa ini, dan tanpa tak sengaja aku mengunggkapkan rasa yang tak pantas aku ucapkan kepadamu, karena sepertinya semua yang aku ucapkan mengganggu hidup kamu”
“Tak seperti itu gus, aku hanya takut dan bingung apakah pantas. Gadis seperti aku ini bersanding dengan seorang gus pemilik pesanteren yang sekarang aku tempati”
“Percayalah, Najwa aku mencintaimu ikhlas dari hati dan atas ridho Nya, dan aku tak peduli siapa aku dan kamu, bagiku semua sama tak ada yang berbeda, aku pun sudah bicara dengan umi dan abah. Mereka tak melarangku untuk berdampingan dengan siapapun, jadi maukah kau menjadi pendamping hidup ku nanti”
Aku semakin binggung, dan harus menjawab apa,
“kamu diam, berarti kamu setuju, karena diamnya seorang wanita menandakan kalau dia setuju, besok aku akan kembali ke Mesir. Aku janji, aku akan cepat menyelesaikan program s2 ku dengan cepat dan akan kembali ke sini untuk mempersuntingmu,”
“Dan aku pun kan berjanji, sebelum mas Hisbi kembali ke sini, najwa akan menghatamkan al-quran dan s1 Najwa”.
Suasana haru, yang begitu menyedihkan. Ungkapan rasa yang baru saja terucap kini harus berakhir dengan perpisahan.
Setelah gus Hisbi meninggalkan Indonesia, Najwa pun semakin giat belajar dan menghafalkan alquran. Hingga beberapa tahun kemudian Najwa diwisuda sekaligus mendapat gelah hafidhoh. Setelah selesai wisuda Najwa pulang ke rumah bersama orangtuanya. Najwa dan kedua orangtuanya terkejut dengan kedatangan pak yai dan bu nyai ke rumah. Ternyata mereka datang bersama gus Hisbi, untuk melamar Najwa. Gus Hisbi menempati janjinya begitupula dengan Najwa. Hingga akhirnya mereka menikah dan mendirikan sebuah pesantren yang mereka beri nama “Pon-Pes Putra Putri Al-Furqon”
Cerpen Karangan: Inayatun Ma’rifah
Facebook: Inayah Al Ma’rifah
Mahasiswa IAIN Walisonggo Semarang DAN Penerima Beasiswa Unggulan Monash Institute
REFERENSI :

Satu Sayap dari Langit

Saat senja berbagi kisah menjelang malam, aku terdiam memandang kuasa tuhan. Indah, mempesona dan menakjubkan. Tiba-tiba suara ibu mengagetkanku.
“nadaaa kamu dimana nak?”
“di kamar bu, ada apa?”
“cepat ambil air wudlu nak dan ke masjid!!!”
Dengan segera aku menjawab perkataan ibu..
“baik buu..”
Sebelumnya perkenalkan namaku “qatru nada” dan teman-teman biasa memanggilku nada, dan menurut bahasa arab namaku memiliki arti “tetesan embun” cantik bukan… Hehehe
Mungkin ibuku berharap aku seperti tetesan embun di pagi hari yang menjadi pertanda bahwa harapan pagi muncul dan dapat menyejukkan setiap harinya.
Aku sekolah di sekolahan islam di daerahku, dan ini adalah kisah yang ingin aku ceritakan, aku hanya gadis sederhana yang tak begitu senang dengan keramaian, senang menyendiri dan menulis. Namun bukan berarti aku tidak memiliki teman, aku cukup dikenal di sekolah karena aku sering menggoreskan kata-kata pada mading sekolah, dan event-event yang berbau sastra di sekolah.. Hehehe dan dua sahabatku yang selalu menemani hari-hariku di sekolah adalah cici dan rara, kita bersahabat dari pertama kali masuk sekolah dan kini aku, cici dan rara sudah kelas dua dan aku bahagia mengenal mereka, terkadang banyak kata-kata yang sering aku ukir di buku dairyku tentang kisah kita bertiga.
“nadaaa naadaaa..”
Seperti ada yang memangilku, dan suara itu semakin dekat ternyata cici dan rara yang menungguku di gerbang sekolah,
“adaa apa ci, ra?”
Cici menjawab “ini nih ada yang mau kenalan sama kamu”
“siapa ci?”
“Ini nih aby”,
“Haii…” Lelaki itu menjulurkan tangannya lalu aku menjawabnya.
“Assalamu’alaikum”.
Entah kata-kataku mengagetkannya hingga perlahan aby menundukkan kepalanya yang berada di hadapanku.
Hingga terdengar suara “waa’alaikumsalam”
Maaf, bolehkah aku menjadi temanmu, dengan spontan aku menjawab “silahkan akhi”, dari perkenalan pagi itu kini aku semakin dekat dengan aby, ternyata dia anak yang baik, sopan dan menyenangkan.
Sampai suatu hari aby menjemputku di sekolah.
“assalamu’alaikum nada”
“wa’alaikumsalam akhi”
“A a akuuu hanya ingin memberikan ini”(sambil menyodorkan amplop merah jambu padaku
“apa ini akhi?”
Aby menjawab “iiituu…” Lalu bergegas mengayuh sepedanya dan mengucapkan “wasalamu’alaikum nada”
Aku masih bingung dengan sikapnya itu, sambil melihatnya berlalu.
Lalu aku bergegas pulang ke rumah dengan mengayuh sepeda kesayanganku, setibanya di rumah aku bergegas ke ruang favoritku yaitu kamar mungilku yang penuh dengan lembaran-lembaran puisi di dindingnya.
“huufttt kenapa sikap aby aneh ya” sambil membuka surat yang diberikan aby tadi.
Suratnya berisi seperti ini:
Assalamu’alaikum nada, maaf jika sikapku akhir-akhir ini berubah bukan karena aku membencimu, bukaaan.. Namun aku yang terlalu sering memikirkanmu dan aku takut jika perasaan ini salah dan kamu membenciku, dan menjauhiku.
Jujur nada.. Kamulah satu-satunya perempuan yang mengajariku banyak hal setelah ibu dan ayahku, kamulah sinar yang membuat hidupku yang gelap memiliki warna, setelah mengenalmu aku mulai belajar sholat, membaca al-qur’an, dan aku mengenal cinta saat kamu ada di hidupku, namun aku ingin mencintaimu dengan izin allah, namun setelah aku pelajari ternyata dalam islam hanya ada ta’aruf dan menikah, aku tak ingin melakukan hal yang salah padamu dengan cinta yang bukan karena allah, karena aku terlalu sering melakukan banyak dosa, banyak kesalahan pada rabbku. Jika esok aku telah memiliki keberaniaan dan telah meluruskan niatku aku ingin kau menjadi perempuan pertama yang berta’aruf denganku dan menjadi bidadari dunia akhiratku nada,
“jika engkau secantik ini, bagaimana dengan penciptamu yang lebih cantik darimu, Jika aku mencintaimu bukankah aku harus lebih mencintai rabbmu..”
Dan aku ingin menjadi aby yang lebih baik dari hari ini, untuk itu nada, ini adalah surat perpisahanku. Aku ingin menuntut ilmu di pulau jawa sana, dan lebih mendekatkan diri dengan rabbku, yang mempertemukan aku pada perempuan yang sungguh indah di mataku, jaga dirimu baik-baik ya ukhty, Aku berjanji suatu saat nanti aku akan menemuimu lagi, jika allah mengizinkan pertemuan kita.
Wassalamu’alaikum
Aby
Aku hanya dapat terdiam dan bertanya-tanya pada diriku sendiri, dengan tetesan air mata yang mengalir deras di pipiku, “ya rabb ternyata aku masih menemui seseorang yang baik, yang bersedia menunggu izin darimu untuk bersanding denganku suatu saat nanti, aku berharap engkau mengizinkan pertemuanku kembali denganya ya rabb..”
Cerpen Karangan: Zhefana Dewis
Facebook: Zhelfiana Dewi
lewat kata-kata jarak terasa tak bermakna dan lewat tulisan kamu mengenalku :)
REFERENSI :

Contoh Perusahaan Berbasis IT

Profil Perusahaan

 

Bali Intermedia Utama adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang IT dengan memfokuskan pada jasa internet yang mencakup Share Hosting, Domain Name Registration, Web Design dan Web Programming.
Bali Intermedia Utama didirikan pada 26 September 2006 di Denpasar - Bali. Pada awalnya pelayanan yang diberikan kepada pelanggan adalah seputar dunia portal pariwisata di Bali seperti travel agent, bali villa, hotel, bungalows dan tidak menutupi kemungkinan daerah luar bali seperti lombok, yogyakarta, sumatra, kalimantan, sulawesi, flores, papua dan sumba. Sejelan dengan permitaan dunia industri di Bali tentang pola marketing lewat dunia internet, maka bali intermedia utama mengembangkan pelayanan dengan terbentuknya divisi web design dan divisi web hosting dan domain name registration.
bali intermedia utama tetap dibenahi dan kemungkinan terjadinya pengembangan potensi dari visi dan misinya terhadapt dunia informasi yg terus berproduksi dengan mensikapinya secara profesional dan bertanggung jawab. Selama perjalanannya, Bali Intermedia Utama akan terus bersifat inklusif terhadap informasi yang membangun dan kerjasama saling menguntungkan dari pelaku Teknologi Informasi di dunia.

Visi Bali Intermedia :
Kebersamaan dalam perjuangan untuk menghasilkan karya-karya nyata yang profesional, good cooprate, creatif, inofatif dan interaktif yang tiada henti.

Misi Bali Intermedia :
- Menjadikan Bali Intermedia Utama sebagai perusahaan IT yang profesional dan acountable bagi masyarakat indonesia
- Menjadikan Bali Intermedia Utama sebagai mitra masyarakat dunia.
- Menjadikan Bali Intermedia Utama sebagai pusat teknologi bagi masyarakat bali.

Hardware dan Software Hosting Kelas Enterprise
Seluruh server menggunakan Intel Xeon Double Processor dengan RAID-10 disk yang menjalankan sistem operasi Linux dan FreeBSD dengan control panel terbaik di dunia yakni CPANEL dan ENSIM.

Penempatan Server di Datacenter Terbaik
Mempercayakan penempatan server-server kami di dua provider terbaik di Amerika Serikat yakni Savvis yang dipercaya untuk menjadi tulang punggung Wall Street dan EVI yang merupakan salah satu datacenter terbaik di dunia. Kecepatan, stabilitas, dan jaminan uptime 99% merupakan alasan utama mempercayakan server-server pada dua perusahaan tersebut.

Supporting
Saat ini banyak perusahaan webhosting yang muncul, semuanya tentu dapat dipilih untuk usaha anda, namun hanya sedikit yang dapat memberikan layanan jangka panjang dan menjadikan pelanggan yang utama. Ada banyak penyebab mengapa pelanggan menjadi nomer 2, namun 1 hal yang menjadi penyebab adalah semakin banyaknya pelanggan perusahaan webhosting tersebut. bila perusahaan memiliki ratusan bahkan ribuan pelanggan, maka dapat dipastikan salah satu pelanggan mungkin menjadi tidak terlalu penting bagi perusahaan tersebut.



Kantor Utama:
Cv. Bali Intermedia Utama
No. Lisensi/SIUP: 1049/22-09/PK/X/08
 Jl. Tukad Banyu Poh No.30 Panjer Denpasar - Bali
Samping Dokter Praktek Umum Putu Sri Widyani 
Hotline: +62 - 361- 7906117
 SMS Centre: +62-813.375.50551
 Fax .+62 - 361 - 240230 
Web Online: http://www.balinter.net
 e-Mail: info@balinter.net
 
Kantor Lombok:
CV. BALI INTERMEDIA UTAMA
  Jalan Pemuda 3A, Lantai II Gomong Lama Mataram 
Hotline: +62 370 - 6686625,         Mobile : +628123722940
 e-Mail: info@balinter.net
 
 Linux Server System
Server Processor :Intel XEON 3220 quad core 2.4GHz
- Memory: 3 G
- Ethernet : 1Gbps
- Hardisk : 250G
- Backup : 100G
- Sistem Operasi Debian Linux
- Kernel terbaru yang telah dites
 
- Webserver software: Apache 2
- Support Magento
- Support php Mbstring
- Support Java Tomcat
- Support Ruby
 
- Mailserver software: Qmail; SPAM Filter
- Mail filter dengan Antivirus dan Spambox 
- Language software: PHP(PHP 4.4.x , PHP 5.2.x ), Perl, dsb
- Database software: MySQL(MySQL 4.1.x), PostgreSQL
- Account management tool yg. lengkap
- Webbased Control Panel CPANEL
- Account management tool yg. lengkap 
- Mendukung CGI dan SSI 
- Mendukung Perl DBI Module 
- Dilengkapi 50 buah Pre-Installed Scripts
- Zend Optimizer 
- View Bandwidth Usage 
- View Error Log 
- Password Protected Directory 
- Graphical Statistic
- Cron Jobs management
- Mendukung WAP Server 
- Mendukung htaccess & htpasswd
- URL Rewrite dengan mod_rewrite 

REFERENSI :
http://januarianto04.blogspot.com/2013/10/contoh-perusahaan-berbasis-it.html

Cinta, Air Mata dan Sepertiga Malam Terakhir

Ini adalah sebuah tulisan dari pengalaman saya baru baru ini yang mungkin bisa menginspirasi dan menjadikan pelajaran bagi anda.
Hitam putih kehidupan sudah saya rasakan selama 25 tahun sejak saya lahir. Dari mulai menegak miras hingga aktif menjadi pemuda masjid. Labil itulah jiwa muda saya, terkadang khusu di sebuah masjid terkadang menjadi jagoan di atas panggung membawakan musik keras. Namun ada satu hal yang berbeda, saya adalah orang yang kadang mengunjungi masjid di sepertiga malam terakhir untuk share kehidupan saya, dosa saya, dan impian saya kepada Allah. Hingga akhirnya saya belajar apa itu “Cinta”.
Saya sudah mengembara dari satu cinta ke cinta yang lain. Namun sampailah saya mengalami titik jenuh dan saya putuskan dalam hati, “Ini pacar terakhir akan saya nikahi wanita ini”. Awal kisah ketika saya melihat seorang wanita yang membuat saya “ngefans” denganya. Sebut saja Veve, dialah adik kelas saya namun umurnya lebih tua dari pada saya di kampus. Saking ngefansnya saya sering mencuri mendownload fotonya di facebook hingga mencari kepribadian dan kabar terkini tentangnya. Di dalam iktikaf selalu ada doa untuknya, “ya Allah, dekatkanlah kami. saya akan buatnya bahagia dan menikahinya” air mata menetes dini hari kala itu.
Hei, ternyata doa itu dikabulkan oleh Allah. Beberapa hari menjelang wisuda kami didekatkan, walau harus menanggalkan cita cita saya saat itu bekerja di luar negeri tak jadi masalah karena saya lebih memilih veve untuk masa depan saya. Saya memang sudah taken kontrak dengan sebuah perusahaan production di Malaysia namun saya akhirnya mencancel kontrak tersebut karena saya memilih membantu Veve menyelesaikan skripsinya. Ya, saya mengerjakan skripsi veve dan disitulah kami dekat dan akhirnya kami jadian.
Singkat cerita hubungan kami semakin dekat susah senang kami lewati bersama. Kami sama sama belajar memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik lagi. Hingga akhirnya kami sepakat dan berjanji untuk menikah. Menikah jika belum bekerja tentu sangat beresiko, dan kami pun rasakan sulitnya mencari kerja di Indonesia ini. Dari kota ke kota kami sambangi untuk mengejar impian kami. Saya bercita cita bekerja di perusahaan property dan Veve bekerja di Bank. Saya akhirnya mendapat kerja di Jogja untuk perusahaan kecantikan dan veve belum dapat kerja. Untuk motivasi veve yang mulai deperesi saya menjanjikan veve jika dia diterima kerja di jogja maka rekening gaji saya untuk veve. Selain itu saya kembali berdoa agar veve dapat bekerja di Bank sesuai cita citanya, air mata itu kembali menetes di dalam doa.
Tak sangka veve akhirnya diterima di sebuah Bank BUMN di Jogja. Namun kaget masuk dunia kerja di perusahaan besar pula membuat Veve down. Hampir setiap hari air mata Veve mengalir di pundak saya karena suasana kerja yang memang keras. Melihatnya menangis hati saya kembali bertekad “kamu harus buat dia bahagia”. Akhirnya sebisa saya memberi motivasi untuk Veve, dari mulai shoping, kuliner, jalan jalan, memberi nasehat seadanya, mijitin jika dia cape, apa yang Veve minta sebisa mungkin saya tepati apapun keadaanya yang penting veve bisa senang agar kuat menghadapi hari hari kerjanya. Seiring berjalanya waktu Veve mulai bangkit dan terbiasa, hemm gaji saya waktu itu jauh di bawah gaji veve. Tapi tekad untuk membuatnya bahagia sudah tertancap dalam hati saya hingga saya akhirnya di kabulkan cita citanya bekerja di sebuah property hotel di Jogja yang gajinya lumayan besar.
Akhirnya kami bisa menabung untuk masa depan, bisa tamasya ke luar kota berdua, dan lain lain. Walaupun saya harus bekerja extra di malam hari ketika dia tidur saya masih di depan komputer menggores gambar untuk usaha kecil saya tak jadi masalah inilah usaha saya untuk menjadi suami yang baik. Saya kadang berbohong untuknya ketika veve bertanya ada uang gak? Saya sering mengatakan ada, walaupun sebenarnya tidak ada. Ini saya lakukan agar dia mendapat jatah lebih banyak dari pada saya, cukuplah saya makan dengan nasi emping dan air putih asalkan veve tetap bahagia. Saya iklas melakukan ini semua untuk membuatnya bahagia dan nyaman dengan saya. Hubungan kami juga sudah sangat jauh, Ibu dan ayah saya sudah menganggap veve sebagai anaknya sendiri.
2 tahun kami saling menyanyangi hingga tiba tiba tidak ada masalah apa apa dia berubah, akhir desember ia kembali suka nongkrong dan bahkan tidak mau bertemu dengan saya lagi. Mirisnya ketika saya jelaskan kalau saya telah diberhentikan dari perusahaan, dia tak bergeming sedikitpun untuk sekedar menjumpai saya. Karena terus saya desak akhirnya kami bertemu dan Veve berkata jujur jika dia telah memikiki cinta yang baru dengan pria lain. Hancur perasaan saya wanita yang paling saya cintai dengan perjuangannya, tega melakukan ini di saat dimana saya kehilangan pekerjaan saya bahkan dia enggan mengenal saya lagi
Air mata ini akhirnya kembali tumpah luar biasa di hadapan Allah. Ternyata Allah sangat menyayangi saya, karena memang saya sering lupa Allah saat bersamanya. Saya lebih sibuk membuatnya bahagia dari pada mengunjungi Allah yang memberikan cintaNya untuk saya. Allah mengembalikan saya kejalan taqwa yang sesungguhnya. Luka yang dalam di hati ini menjadi pengingat bahwa Allah adalah segala galanya. Perjuangan keras anda tak ada artinya untuk seorang manusia. Namun perjuangan keras karena Allah akan membuat anda mendapat lebih dari apa yang anda perjuangkan. Kini saya tidak akan dendam atau marah terhadap Veve, belajar untuk iklas dan tetap berdoa untuknya di sepertiga malam terakhir. Semoga Allah memberikan saya pekerjaan yang lebih baik dan mendekatkan kami lagi di sebuah kondisi dimana kami istiqomah di jalan taqwa dan kami akan bersama duduk di sepertiga malam terakhir untuk anak kami nanti. Itulah cita cita saya sejak dulu di sepertiga malam terakhir.
Cerpen Karangan: Helmy Nawan
Blog: helmynawan.blogspot.com
REFERENIS :

Satu Jam Saja

Pagi itu cuaca sangat mendung. Langit bagaikan akan memuntahkan semua isi perutnya. Yah.. benar saja hujan pun turun dengan derasnya. Suasana pagi menyelimuti hatiku, tak terasa saatnya masuk kuliah lagi. Karena liburan semesteran sudah usai. Namun, aku bahagia sekali, karena akan bertemu dengan cowok itu. Dia adalah cowok idamanku. Yah.. bisa dibilang CDH alias cinta dalam hati. Dia orangnya jaim (jaga image), tampan, pintar, calm, dan satu lagi, dia adalah seorang santri yang akan menjadi hafidz dan itu membuat aku tambah menyukainya. Dia kuliah sambil mondok. Sedangkan aku laju dari rumah ke kampus.
Sebelumnya, perkenalkan namaku Rahma Zulfikha. Panggil aku Rahma. Aku adalah seorang mahasiswi di STAIN Kudus. Aku di kenal seorang cewek yang sederhana, ramah dan lumayan pintar. Sedangkan cowok yang aku idamkan itu bernama Syarif. Nama panjangnya Syarif Hidayatullah. Aku biasa menyapanya “kang Syarif”. Panggilan “Kang” itu memang sering aku panggil untuk setiap cowok yang belajar di ponpes (pondok pesantren). Dia juga seorang mahasiswa di kampusku. Kami satu angkatan dan satu jurusan yang sama pula.
Aku bertemu dengan dia ketika kami ospek dulu. Kami satu kelompok ospek bareng. Namun, dia sikapnya sangat acuh dengan aku. Hingga sekarang sampai 2 tahun kuliah. Padahal aku sangat berharap dia mau bercakap denganku tapi selain membahas tugas mata kuliah, walau satu jam saja. Minimal dia bercerita dengan aku tentang kehidupan dia di pondok. Kami juga sering satu kelompok makalah bareng dia terus. Tapi, tetep aja jaimnya tinggi. Namun, itu yang aku suka dari dia. Dia tidak gampang merayu cewek dan bicaranya hanya seperlunya saja. Aku juga akrab dengan sahabatnya Syarif, dia bernama Idris. Namun, dia sebaliknya dengan Syarif. Yang beda dengan Syarif itu adalah Idris seorang cowok yang humoris, dan orangnya manis tapi agak pendek dikit dari Syarif. Mereka baik, sholeh dan pintar.
Aku juga punya sahabat cewek. Dia bernama Cindy. Dia adalah sahabat terbaikku. Tapi.. dia diam-diam menyukai Syarif juga. Dia selalu menceritakan gerak gerik Syarif di kampus kepadaku. Tapi.. aku gak pernah menceritakan ke dia. Kalau aku juga menyukai Syarif. Itu pasti hanya akan jadi bahan ketawaan Cindy, karena aku gak pernah pacaran dan bisa di bilang, anti dengan cowok. Sedari dulu, sejak aku SMP sampai kuliah, bareng dengan Cindy terus. Dan aku sangat paham dengan Cindy. Kalau ada cowok yang cool dikit, langsung deh jadi gebetannya. Dan tentunya langsung jadi pacarnya. Syarif juga salah satu korbannya dia. Tapi, aku hanya ketawa kecil. Kalau Cindy selalu dicuekin Syarif. Cowok se calm dia, mana mungkin tergoda sama cewek seperti Cindy yang play girl.
Suatu hari di kantin, ketika kami sedang makan siang bareng Rahma, Syarif dan Idris. Setelah selesai makan, kami akan mengerjakan tugas kuliah bareng di gazebo. Tapi.. seperti biasa hanya aku dan Idris yang asyik ngobrol jika bahas selain tugas. Aku hanya ngobrol dengan dia, hanya tugas aja. Sedangkan Cindy sok kenal sok deket sama Syarif. Lalu kami mulai belajar. Aku dan Cindy membuka laptop. terus Syarif dan Idris mengeluarkan bukunya dari tas. Aku memulai pembicaraan.
“Kang Rif.. dari kemarin aku udah nyari haditsnya di perpus tapi kok gak ketemu-temu yaa?” tanyaku bingung.
“owh… yang hadits tentang menunjuk hidung itu? Aku udah ketemu kok.. kemarin pas kamu keluar dari perpus. Aku baru masuk ke perpus. Ini kan? Yang kita cari?” jawab Syarif santai. Lalu dia menyodorkan bukunya ke arahku dan dengan suara indahnya Syarif melafalkan sanad dan matan haditsnya dengan hafal dan lancar.
“Yang artinya, Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas r.a, Rosulullah SAW bersabda: “Aku diperintahkan bersujud diatas tujuh tulang, yaitu dahi (dan beliau menunjukkan hidungnya), kedua tangan, kedua kaki, dan ujung-ujung jari kedua kaki, dan kami tidak boleh menggabungkan pakaian dan rambut.” Syarif menambahkan artinya.
“Wah.. kamu nemu di buku apa Rif? Syarif pinter… banget. hehehe” Cindy memuji.
“Di buku karya Al-Hafidz Zaki al-Din ‘Abd al-‘Azhim al-Mundziri judul bukunya Ringkasan Shahih Muslim” Idris menambahkan.
“okelah… berarti tinggal kita cari penjelasannya” tambahku.
“aku udah ada 3 buku buat referensinya tapi belum sempet aku ringkes” keluh Syarif.
“aku aja Kang Rif.. yang ringkes. Kamu juga sibuk di pondok kan?” aku menawarkan.
“aku juga punya buku selain itu” tambah Idris.
“aku ringkes juga deh.. mana bukunya Rif..” Cindy ikut-ikutan aku.
“okeh.. jadi kita semua punya buku masing-masing. 3hari lagi kita kumpul disini lagi dan harus sudah di ringkes” tegas Syarif.
“Beress…” jawabku, Idris dan Cindy serempak.
Begitulah Syarif, dia hanya berbicara dengan aku Cuma ketika bahas tugas mata kuliah aja.
Tepatnya weekend pada hari sabtu, hpku berdering. Tak ku sangka, Idris mengajakku makan siang di kafe, yang tak jauh dari rumahku. Waktu itu perasaanku bad mood banget. Jadi, aku mau terima tawarannya dia. Setelah sholat dzuhur, aku mulai memilih baju, rok dan jilbab yang cantik untuk aku kenakan. Aku memakainya dan berdandan seadanya. Hanya bedak tipis dan lip balm. Tiba-tiba Idris pun datang dengan membawa mobilnya. Dan tak ku sangka juga ternyata Idris mengajak Syarif. Hatiku deg degan gak karuan.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam” lalu aku membuka pintu.
“are you ready girl?” semangat Idris.
“ready. Kang Idris.. kamu kan ajak kang Syarif. Boleh aku ajak Cindy?” pintaku.
“Owh.. jangan-jangan” jawab Idris gugup.
“iya.. kita bertiga aja Rahma..” Syarif membela.
“owh.. oke.. no problem” jawabku santai. Tapi, aku merasa yang aneh pada malam itu. Meskipun begitu, aku sangat senang sekali karena Syarif pertama kali memanggilku “Rahma”, biasanya hanya “hay kamu..”.
Setiba di kafe, setelah kami makan bareng. Lalu kami ngobrol cukup lama, kecuali Syarif. Dia tetep aja jaim dan cuek. Tak menghiraukan kami, tapi malah smsan. Tiba-tiba Idris mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Tak ku sangka, dia menembakku. Dia mengungkapkan perasaanya padaku di hadapan cowok yang aku sukai. Dan dia sambil memberikan gelang indah di hadapanku. Waktu itu aku sangat syok dan bingung sekali. Aku tak kuasa jika aku harus menerima Idris di hadapan dia. Aku pun terima cinta Idris. Betapa kagetnya aku, Syarif mengucapkan selamat kepadaku dan ke Idris. Lalu aku memakai gelang itu sendiri yang tadi disodrkan Idris ke aku. Karena di kampus kami memang selalu menjaga syar’i untuk tidak bersentuhan tangan yang beda muhrim. Aku selalu terapkan itu dalam kehidupanku, semenjak kuliah disini. Saat itu, Aku merasa dia benar-benar tulus mencintaiku. Tapi, dia sama sekali belum bisa aku cintai. Yang aku cintai, hanya Syarif semata.
Aku pikir, dengan aku menerima cintanya Idris. Aku bisa melupakan Syarif sedikit demi sedikit. Tapi.. kenyataannya nihil. Justru dengan aku jadian sama Idris, aku malah sering bertemu dengan Syarif. Karena, mereka bersahabat. Aku sangat tersiksa dengan ini, karena di hadapan dia, aku bercandaan mesra dengan Idris. Meskipun mesra, tapi kami tak pernah berpegang-pegangan tangan layaknya orang pacaran pada umumnya. Kami selalu menjaga syari’at Islam.
Suatu hari selesai kuliah, aku makan siang dengan Idris di kafe, depan kampus kami. Dari jarak 5meter, aku melihat sosok seseorang yang aku kenal. Saat itu, Idris sedang ke toilet. Orang itu kemudian lari keluar kafe. Dan aku mengejar orang itu. Orang itu pun berhenti, orang itu tinggi menggunakan jacket hitam dengan celana levis dan sepatu sport ditambah lagi topi hitam. Aku menyuruhnya membalik ke arahku. Orang itu pun menghadap kepadaku. Tak ku sangka, orang itu ternyata Syarif. Di dalam hatiku bertanya, untuk apa dia mengikuti kami berdua. Dia pun berhenti. Lalu tak pikir waktu panjang, aku pun melontarkan pertanyaan kepadanya. Saat itu, yang aku liat Syarif tak seperti biasanya. Wajahnya sangat pucat. Sedikit demi sedikit dia mendekatkan dirinya padaku. Hatiku kembali berdebar dibuatnya, sekitar jarak 1meter dari wajahku, aku melihat darah titik demi titik keluar dari hidungnya, aku terkejut dan ingin menangis.
“Kamu.. kenapa kang Rif? Apa kamu sakit?” pada waktu itu yang ku tanyakan pertama adalah keadaan Syarif.
“aku tidak apa-apa” jawab Syarif.
“tapi.. kamu… Apa aku antar kamu ke dokter?” aku menawarkan bantuan.
“owh.. tidak.. terima kasih Rahma” jawabnya.
Tiba-tiba dia berlari lagi. Aku ingin mengejarnya lagi. Namun, aku ingat Idris. Dan aku kembali ke dalam kafe.
Setiap kali kami berempat kumpul bareng. Syarif tak pernah menceritakan kejadian di kafe itu. Aku pun demikian. Mungkin karena Syarif tak ingin menyakiti hati Idris. Pagi sekali, ketika itu hanya aku dan Syarif yang sudah tiba di kampus. Aku mendekati dia dan tak malu-malu aku bertanya. Karena kejadian itu sangat menghantuiku tiap hari.
“Assalamu’alaikum kang..” aku mulai dengan memberikan salam.
“Wa’alaikumsalam” jawabnya.
“Maaf kang.. kenapa kemarin pas di kafe kamu seperti mengikuti aku sama Idris?” tanyaku Heran.
“Owh.. itu. Iya.. memang aku sengaja mengikutimu” jawab Syarif santai.
“tapi.. kenapa? Apa ada yang salah dengan aku kang?” aku semakin penasaran.
“tidak apa-apa. Aku Cuma ingin melihatmu waktu itu” Syarif menjawabku dengan lembut.
Aku diam sesaat. Aku tak bisa berkata apa-apa. Aku bingung mau bilang apa padanya. Aku ingin sekali mengucapkan bahwa aku sangat mencintainya. Tapi, apa daya aku tak mampu. Janji setiaku sudah terikat orang lain. Tiba-tiba Idris datang dan bertanya keadaannya Syarif.
“Rif.. kau keliatan pucat sekali. Apa sudah minum obat? Lebih baik tadi kamu istirahat aja di pondok. Apa aku antar pulang sekarang aja?” Idris khawatir.
“tidak.. terima kasih Dris.. aku agak baikan kok.” jawab Syarif.
“dia kenapa Mas Idris?” tanyaku kepada Idris. Begitulah, setelah kami resmi pacaran. Kami memanggilnya Mas dan Dek.
“Dia sakit parah Dek Rahma.. kasihan dia. Padahal seharusnya dia pulang ke kampung aja. Biar dirawat oleh keluarganya.” Jawab Idris.
“sakit apa?!” aku kaget.
“kamu kenapa Dek Rahma.. aneh deh.. tanya sendiri aja. Maaf Dek.. karena aku udah janji gak akan bilang sama orang-orang tentang penyakitnya dia” jawab Idris.
“owh..” jawabku heran. Tak biasanya Idris menyembunyikan sesuatu dariku. Dan Aku semakin penasaran.
Esoknya aku mendengar kabar buruk dari Idris. Bahwa Syarif telah masuk rumah sakit. Idris baru memberitahuku bahwa Syarif mengidap kanker otak. Seketika itu aku menangis dan langsung aku meminta Idris untuk mengantarnya ke rumah sakit. Idris pun mulai curiga dengan aku. Setiba di rumah sakit. Di depan ruangan Syarif, udah ada orangtuanya dan teman-teman pondoknya dia. Aku pun masuk ke ruangan. Aku melihat sosok orang yang aku cintai lemah tak berdaya dan pucat sekali. Aku datang sendirian ke ruang rawat Syarif, karena hanya satu orang yang diperbolehkan masuk ke ruangan Syarif. Aku membawa bunga lili berharap dia bisa kembali tersenyum. Aku tak henti-hentinya menangis. Aku membuka pembicaraan ku padanya yang masih koma.
“Assalamu’alaikum kang Syarif.. kamu kenapa begini kang? Apa kamu tahu? Aku sangat sedih kang?. Cepet bangun kang Rif.. aku ingin mengungkapkan perasaanmu padamu. Bahwa aku sangat menyukaimu sedari dulu. aku sayang kamu. aku tak mampu menutup-nutupinya lagi. Tolong bangun kang Rif..” aku terus menangis. Aku kaget dan bahagia karena tiba-tiba Syarif sadar dari komanya. Ternyata dia mendengar kata-kataku terakhir tadi.
“Lalu kenapa kamu menerima cinta Idris?” tanyanya.
“Idris begitu baik, tulus dan enjoy padaku. Sedangkan kamu kang Rif? Cuek dan seperti tidak menyimpan rasa padaku, aku mencoba melupakanmu dengan menggantimu sama Idris, tapi sepertinya aku tidak bisa” kembali tangisku berderai.
“Maafkan aku Rahma.. karena sikapku ini. Kamu jadi seperti ini. Jujur.. aku juga menyukaimu sedari dulu. Aku mencintaimu karena Allah. Aku mencintaimu karena tingkah lakumu dan agamamu yang baik. Kamu adalah wanita yang sederhana dan sholeha. Dan Aku tak bisa mengungkapkan perasaanku ini padamu, karena penyakitku ini. Aku tau umurku tidak akan panjang, aku takut jika aku menyatakan cintaku padamu nanti aku akan menyakitimu dengan cara meninggalkanmu. aku tak ingin melukaimu lebih dalam lagi. Rahma.. Boleh aku meminta sesuatu?” Syarif meneteskan air mata.
“apa itu kang?” jawabku.
“aku ingin bersamamu satu jam saja Rahma.. aku ingin memandangmu sebelum aku pergi” pinta Syarif.
“iyah.. kang Rif..” aku meng-iyakan permintaannya.
Tapi, kali ini aku begitu sangat ketakutan sekali. Bagaikan disambar petir. 1 jam kemudian. Dia memintaku untuk mengundang orangtuanya dan Idris juga. Dokter pun membolehkannya. Karena mungkin dokter sudah tahu, bahwa itu adalah permintaan terakhirnya Syarif. Merekapun masuk ke dalam ruangan. Tak ku sangka ternyata Idris mendengar pembicaraan kami. Lalu Syarif memulai pembicaraan.
“Dris.. aku minta sesuatu kepadamu. Tolong jaga Rahma baik-baik. Aku tak ingin kamu melukainya. Dan ingat ya? Ber pacaranlah islami. Jaga kehormatan kalian sebagai orang muslim. Aku berharap, kelak kamu adalah pendamping hidup Rahma. Aku tau kamu adalah orang yang sangat baik dan sholeh. Jadi, aku nitip Rahma ya” pinta Syarif dengan senyuman.
“iya Rif.. aku akan menjaga Rahma mu. Aku sangat mencintainya. Pasti aku akan tepati pintamu” Idris menangis.
“Umi.. Abi.. Maafkan anakmu ini. aku tak bisa meneruskan perjuangan Abi sebagai pendakwah. Abi adalah inspirasiku. Dan Umi adalah wanitaku yang paling terbaik dan terindah di dunia ini. Aku sangat mencintai dan menyayangi kalian. Dan aku bangga dan bahagia menjadi anak Umi Abi..” puji Syarif kepada Orangtuanya.
“iya nak.. kami juga bangga punya anak seperti kamu” jawab Orangtuanya lalu mereka menangis.
“Makasih Rahma.. udah pernah hadir di kehidupanku. Belajarlah mencintai Syarif karena Allah. Kelak kamu akan bahagia di dunia dan di akhirat nanti” Syarif memohonku.
“Insya Allah kang Syarif..” aku tak henti-hentinya meneteskan air mata.
Lalu Syarif mengucapkan kalimat syahadat. Dan seketika itu dia meninggal dunia. Saat itu aku pingsan. Mungkin karena aku tak kuasa melihat kenyataan itu. Tak pernah terfikirkan olehku. Syarif akan meninggalkanku seperti ini. Satu jam saja, kamu telah bisa mencintai aku di hatimu.
Aku menangis dengan derasnya. Sesampai di kuburan Syarif, aku hanya bisa menatap batu nisannya dengan mata sembab ku. Inilah saat-saat terakhirku bersama dia. Dengan menyesal aku mengatakan ucapan terakhir “Uhibbuka Fillah Kang Syarif, aku mencintaimu kang.. karena Allah..”. Selamat jalan cinta dalam hatiku.
TAMAT
Cerpen Karangan: Widi Astuti
Facebook: widi astuti gosuksesgo
aku adalah seorang mahasiswi di pekalongan. aku sangat suka menulis cerpen sejak Smp. Banyak teman-temanku yang ingin kisah cinta ataupun persahatannya di kisahkan oleh ku.

REFERENSI :

CARA MENDAPATKAN PROYEK MELALUI TENDER & CONTOH PROPOSAL

Pernah ikut tender atau punya rencana untuk mengikuti lelang proyek? bagaimana agar kita bisa terpilih menjadi pemenang? disini kita bahas cara menang tender pengadaan barang dan jasa sehingga bisa menjadi pemenang dan berhak mengerjakan proyek yang sedang dilelang. Nilai tender bervariasi dari mulai yang kecil sampai besar seringkali di adakan oleh instansi pemerintah maupun swasta.
Banyaknya peserta tender yang ikut berjuang agar menjadi pemenang membuat kita perlu melakuakn cara dan inovasi terbaik agar bisa menang tender. berbagai macam persaingan muncul dalam proses pelaksanaan tender namun hendaknya kita tetap menggunakan cara yang baik dan halal. panitia lelang pengadaan barang dan jasa akan memilih perusahaan entah itu arsitek atau kontraktor yang memenuhi persyaratan tender. Nah.. disini kita uraikan beberapa cara dan strategi agar bisa memenangi tender.

Cara menang tender pengadaan barang dan jasa
  1. Kita siapkan terlebih dahulu perusahaan yang hendak digunakan untuk mengikuti tender, entah itu berbentuk PT atau CV karena peraturan pemerintah mensyaratkan peserta tender harus berbentuk badan hukum bukan perorangan.
  2. Kita urus juga berbagai macam dokumen syarat tender seperti Nomor pokok wajib pajak ( NPWP ), Surat izin usaha perdagangan (SIUP), Surat keterangan domisili perusahaan (SKDP) dan untuk tender proyek bangunan biasanya ada persayaratan tambahan seperti Izin usaha jasa kobstruksi (IUJK) dan dokumen lainya dapat dibaca dan dipelajari pada masing-masing pengumuman lelang.
  3. Mencari tahu sebanyak mungkin berita tender, bisa didapat dari koran, website atau LPSE sebagai lembaga pengadaan lelang secara elektronik masing-masing wilayah kabupaten atau kota di Indonesia, informasi tender juga bisa didapat dari panitia lelang pada instansi yang mengadakan lelang.
  4. Baca dan periksa dengan teliti apa saja persyaratan yang harus disediakan seperti berkas-berkas atau surat-surat yang harus ada dalam pengajuan tender.
  5. Ikuti dengan disiplin jadwal tender yang disediakan, melakukan lebih awal atau terlambat bisa menjadi penyebab kegagalan menjadi pemenang tender.
  6. Bermainlah dengan jujur tanpa melakukan kecurangan seperti bekerja sama dengan panitia tender agar terpilih menjadi pemenang, proyek banyak jika didapat dengan cara haram maka tidak akan mengantarkan kita ke gerbang kebahagiaan dan ketenangan hidup, sebaliknya biarpun dapat proyek sedikit jika itu dengan jalan halal maka lebih berkah dan bermanfaat untuk menjalani kehidupan.
  7. Hindari perbuatan yang melanggar hukum seperti mengancam peserta lelang lain, atau mengancam panitia tender agar dipilih menjadi pemenang. sebagai peserta tender kita dalam posisi sebagai peminta, oleh karena itu sudah sepatutnya kita bertingkah laku terbaik agar jikalau terpilih menjadi pemenang tetap didapat dengan cara yang baik.
  8. Ajukan harga penawaran dibawah dan mendekati harga tender, mengajukan harga lebih tingi maka kita akan kalah dengan peserta yang mau menawarkan harga lebih murah. namun menawarkan harga terlalu murah juga tidak baik karena kita bisa dianggap akan melakukan pengurangi spesifikasi dan kualitas barang untuk mendapatkan harga termurah.
  9. Jaga hubungan baik dengan suplier dan pedagang barang atau jasa, dengan begini maka kita tetap dapat memberikan pekerjaan sesuai dengan persyaratan tender.
  10. Jika kita terpilih menjadi pemenang tender maka mengerjakan sesuai dengan spesifikasi yang telah disepakati, dengan begini tentu kita sudah mendapat nama baik dan punya potensi besar untuk menang tender proyek berikutnya.

Trus gimana juga bentuk proposal buat perusahaan untuk pengajuan proyek?
Nih ada contohnya --> http://www.slideshare.net/takimguns/proposal-proyek-pembangunan

REFERENSI :
http://www.fika4194.blogspot.com/2014/12/cara-mendapatkan-proyek-melalui-tender.html